Sedikit tentang saya

kunjingi saya di situs jejaring sosial lainnya :
FB : http://www.facebook.com/utami.wijayanti
TW : http://twitter.com/tamicikiciw
tumblr : http://utamitamicikiciw.tumblr.com

untuk yang terakhir bisa hubungi saya di PIN : 21A71504
thank for all

Senin, 02 Juni 2014

TAKDIR



Dia itu memang jahat, tetapi aku sangat mengaguminya, bagaimanapun dia jujur saja dia tetap di hatiku. Begitu sangat menyakitkan mengenalnya, mengapa kebohongan yang memutuskan? Dan apa tidak ada jalan lain selain putus? Sudahlah, memang sudah jalannya seperti ini. Dia sudah menemui cintanya yang selama ini dia idam-idamkan, dan itu bukan aku yang pasti, semoga ini awal dari perjalanku menemukan siapa orang yang tepat.

                Selang beberapa minggu berlalu, hatiku masih tetap kacau balau, dengan kejadian waktu itu, kisah yang baru saja aku selami. Di tengah lapang ketika kegiatan pramuka di mulai, terik matahari yang langsung menyambar ubun-ubun kepalaku melewati kerudung yang ku kenakan, terasa sangat tajam. aku merasa begitu gerah, begitupun dengan teman-temanku yang sama sengsaranya, mendengarkan kaka dewan yang berkicau ganas. Tidak mempedulikan kami-kami di lapang. Serasa ingin pergi saja kala itu. Dan ketika aku masih melihat, raut wajah tampan nan eloknya di sebrang mataku, hatiku tidak ingin berada di tempat itu, tetapi ragaku terpaksa harus di tempat itu, sangat sulit.

                Penyiksaan itu bertubi-tubi menyiksa seiring dengan haus yang ku rasa. Di pojok lapang yang gersang aku melihat seseorang sedang tertawa dan bercanda ria dengan teman sebayanya, semua wajah selain wajahnya sudah tak kuasa menahan haus, tapi dia? Dia tidak sama sekali menghiraukan bagaimana keadaan saat itu. Hatiku terasa di tusuk benda tumpul yang susah menerobos hatiku, entah mengapa aku ingin mencoba untuk membuat dia berada di hatiku, seperti yakin bahwa dia jodohku.

                Perjuangan itu berawal dari aku mendapat nomer ponselnya, ya namanya Deny. Kita saling kabar mengabari tak putus-putusnya. Hal itu tidak lama terjadi, hanya selang beberapa hari. Suatu hari aku bertanya dalam pesan “kamu lagi sama siapa den?“ , dia menjawab “hahaha :D , aku lagi jomblo nih. Kamu fan?“ , “sama J , kenapa kita gak jadian aja den?“ , “ah kamu bisa aja“ , ketika dia membalas pesanku seperti itu, aku sudah merasa pesimis untuk menempatkan dia di hatiku. dan sampai larut malam hari, aku tidak membalas pesannya karena pesimisnya hatiku, dan akhirnya aku memberanikan diri untuk  membalas pesannya dan bertanya “kamu udah punya pacar yah den?“ , jawabannya sangat mengejutkan hatiku “sudah“ , benda tumpul yang berusaha menusuk hatiku berhasil masuk, tetapi sangat menyakitkan. “ah? Siapa?” tetapi jawaban kali ini menusuk lebih dalam lagi “kan kamu, yang waktu siang itu” senang, itu kata pertama yang bisa menggambarkan perasaanku saat itu. Di mulai dari hari itu aku dan dia menjalani suatu hubungan, yaitu pacaran.

                Tiga bulan berlalu, tidak ada sama sekali alasan, untukku mempertahankan hubungan yang semakin hari semakin membosankan, tidak ada cerita yang berarti, semuanya itu terasa biasa. Di dalam bosan yang mendera perasaan dan fikiranku, seseorang yang dulu aku idam-idamkan datang lagi. Ya Ari itulah panggilannya. Ari yang dahulu menemani dan setia mendengarkan aku bercerita, tentang pria-pria yang menemaniku hanya sepintas. Dia setia memberikan pendapat dan sesekali menghiburku di kelas. Dia kembali di saat yang tepat menurutku. Hidupku kembali berwarna ketika dia kembali dengan sejuta harapan, dahulu dia tidak seperti ini. Apakah dia memendam perasaan yang sama sepertiku? Apakah ini hanya sebatas teman biasa? Entahlah. Dia mengantarkanku sepulang bermain dengan teman-teman, di saat itu dia mengutarakan perasaannya kepadaku. Sangat romantis, dia menggenggam tanganku sembari mengemudikan sepeda motornya, menggenggam erat tangan mungilku dengan lembut. keegoisku berkata "iya" untuk semua apa yang di katakan Ari.

                Bodohnya aku terjebak di dua hati, tak tau apa yang akan terjadi di kemudian hari.  Ari lebih mengerti apa arti kata pacaran, dia sangat romantis, dia telah mengecup bibir manisku. Aku tidak ingin di saat aku sedang bersama Ari teringat Deny. Tapi itu susah, Deny selalu melintas di fikiranku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya mengetahui pacarnya seperti ini. Dia tidak melakukan apa yang di lakukan Ari kepadaku. Aku lebih nyaman dengan Ari, dia sangat mengerti aku.

                Selang setahun aku dalam kisah ini. Deny dan Ari tidak saling mengetahui satu sama lainnya. Dan Ketika aku sedang mengerjakan tugas bersama Deny di kelas, Deny tanpa sengaja melihat album-album fotoku, dia mengetahui hubunganku dengan Ari. Aku yang gembira berjalan ke kelas, yang tidak mengetahui apa yang telah terjadi, dengan membawa minum untuk Deny, dan mendapati dia sedang melihat albumku dengan Ari, hatiku seketika tersayat benda tajam yang amat sangat cepat. Denga air mata yang ku bendung di bola mataku, rasa penyesalan, dan kecerobohanku meninggalkan Deny dan laptopku di kelas, wajahku hingga merah padam dan berlinang air mata. Aku mendekatinya dan hanya bisa mengatakan kata "maaf", Deny hanya tersenyum dan mengatakan "kamu sedang bersama pria lain". tanpa dapat ku cegah dia bergegas meninggalkanku di dalam kelas, sendiri tanpa ada satupun orang di sekitar. Aku terpanah melihat sebuah foto yang ada di layar leptopku, fotoku bersama Ari. Pertanyaan-pertanyaan yang mulai bermunculan di otakku tentang bagaimana perasaan Deny sekarang? Apa aku jahat? lalu bagaimana kalau sudah seperti ini? , Semua menggerogoti otak dan perasaanku.

                Hari-hari setelah kejadian itu hubunganku bersama Ari sudah mulai merenggang, dan aku memutuskan sepihak, Aku tak kuasa untuk menjalani ini semua. Ari masih tetap di sampingku walau dia telahku putuskan. Tanpa lelah dia tetap bertanya apa alasanku memutuskannya. Deny menghilang, dia enggan membalas pesanku atau telfonku, aku temui di kelas, dia hanya membaca kamus yang biasa dia lakukannya di jam istirahat sekolah, dan sesekali jika dia mulai panas dengan bualanku, dia mengeluarkan headset yang sudah terhubung ke ponselnya, memasangnya di kedua telinganya dan mulai menyalakan lagu Rock. Aku temui dia di perpustakaanpun dia tetap dingin, jika dia mengetahui aku berada di sana dia langsung meninggalkan perpustakaan. Apakah sesakit itu dia? Sebenci itukah? . Ujian Nasional kelulusanku pun sebentar lagi di selenggarakan, aku yang beberapa hari ini masih terfikirkan tentang kejadian kala itu, masih bertanya dalam hati aku masih bersama Deny kah? . akhirnya aku mengirimkan pesan kepada Deny, Deny membalas pesanku setelah beberapa hari tidak ingin berhubungan dan menemuiku.


                Aku membalas pesan itu dengan gemetar dan hati yang kacau, dahulu dia berjanji untuk berubah, tidak bersikap membosankan dan lain  sebagainya, dia berjanji ingin membahagiakanku. Hari-hari bersama Deny kali ini sangat berarti, aku baru merasakan seberapa besar cintanya padaku, walau kata sayang tidak pernah terucap sekalipun dari bibir tipisnya. Semua yang telah terjadi bersama Ari seperti menghilang di telan bumi, seiring dengan menghilangnya Ari setelah mengetahaui apa alasanku memutuskannya. Maafkan aku Ari, hanya kata itu yang mungkin dapat sedikit mengobati perasaannya. Lebih sakit melihat Deny menjauhiku ketimbang aku melihat Ari sudah bersama wanita lain, mungkin itu cara agar Ari melupakanku.

                3 hari ujian pun telah usai, aku belajar mati-matian minggu-minggu itu, tidak memikirkan apapun selain lulus dengan nilai yang baik dan lulus test Akademi Kepolisian. Setelah 3 hari itu usai, aku mencoba bertemu Deny untuk meminta maaf dan mengobrol, sesekali bergurau seperti dahulu. Deny sudah menerima SNMPTN undangan ke Universitas yang dia idamkan, dia menceritakannya semua. Dia sangat senang karna akhirnya dia mengambil Fakultas Kedokteran, Selamat untukmu Den. Dan kabar baik yang aku kataka kepada Deny bahwa aku di terima di Akademi Kepolisian. Aku baru kali ini melihat raut wajah Deny begitu senang mendengar ceritaku, sangat jarang terjadi.

                Acara Perpisahan dan Prom Night sekolah sudah di laksanakan, seperti tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya tidak satu kampus lagi bersama sahabat-sahabat dan teman-teman lainnya. Sebelum pulang Prom Night sekolah, Deny mengirimku pesan yang berisi “Besok saya tunggu di pantai yah” , wajahku memerah seketika. inikah kencan pertamaku dengan Deny? Ah hatiku seperti di penuhi petasan. 2 tahun berpacaran baru kali ini dia mengajakku, sebuah angan-angan yang sekarang terjadi.

                Esok harinya aku menuju pantai yang di maksud Deny. Aku mencari dia di pantai itu, mencari sana kemari dan tidak menemuinya. Pandanganku tertuju pada sesosok peria kurus mengenakan kemeja putih dan celana putih sedang duduk beralaskan tikar, di pojok bibir pantai, berdekatan dengan pohon bakau.  Deny menoleh dan tersenyum, lalu aku mendekatinya, aku  mengenakan Dress putih pink pendeku. “sudah menunggu lama den?” , “tidak, baru setengah jam yang lalu saya di sini” , “oh maaf saya telat” dia hanya tersenyum dan memberikanku tempat untuk duduk bersebelahan dengannya, Pandangan kosongnya tertuju lurus ke tengah pantai. Beberapa puluh menit berlalu tanpa ada kata-kata, akhirnya dia membuka percakapan, kami bercanda gurau dengan banyolan ampuhku yang mampu mengocok perut Deny. Deny mengajakku ke tengah pantai, tanpa mampu menolak aku menyetujuinya. Kita berjalan berdampingan, dan pertama kalinya dia menggenggam tangan mungilku, sangat erat seperti tidak ingin aku pergi. Candaan ku lakukan dengan mengguyurnya dengan air pantai di genggamanku, untuk mencairkan suasana yang tegang ketika itu. Kami bercanda gurau di tengah pantai, Ini semakin meyakinkanku bahwa Deny lah jodohku.

                Setelah kami kembali ke bibir pantai, aku berniat mengeluarkan handuk dari tasku, tapi Deny sudah memberikan handuk untukku. Senang dan kaget saat itu aku di buatnya, tidak ada kata-kata lain selain aku senang bersamanya saat ini, aku mencintainya dahulu hingga saat ini. Tanpa menghusap air laut dari badannya, dia hanya menyampirkan handuk menutupi lebar pundaknya, dan duduk kembali seperti semula. Setelah aku menghusap sebagian air laut dari badanku, aku kembali duduk di sebelah Deny.  Kali ini sang surya sudah hampir turun, angin yang berhembus kencang dari laut menerpa badan kurusku dengan Deny, dingin yang luar biasa. Aku mendekat ke badan Deny dan menyandarkan kepalaku ke pundaknya, Dia  tidak menolak.  Dia berkata “aku ingin mencoba sesuatu” , “apa den? Lakukan saja” . dia mulai menatapku dan berkata “maaf”, lalu mencium bibir dinginku dengan sangat lembut dan hangat, aku menangis bahagia. Dia mengakhirinya, dan aku mendaapati darah menetes dari hidung di kemeja putihnya. Deny mengatakan bahwa itu hanya mimisan yang biasa datang jika dia terlalu lelah, dan dia menciumku lagi lebih lama dari sebelumnya. Hingga akhirnya sang surya tenggelam tanpa kita sadari. Setelah itu darah semakin bercucuran, aku menghawatirkannya, Deny langsung mengambil ponselnya, tergesah-gesah mencari nomor seseorang, dan terdengar Deny memerintahkan seseorang untuk menjemputnya. Deny menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu, aku menurutinya dan masih dalam perasaan khawatir. Deny berbohong, aku baru melihat dia seperti ini, mimisan.

                Aku pulang lebih dulu dan meninggalkan Deny yang sedang menunggu seseorang. Ke esokan harinya aku menelfon dia untuk mengetahui keadaannya, dan sekaligus untuk meminta izin pergi ke semarang menjalani study Akademiku. Deny sudah menunggu di stasiun sejak pukul 07.00 pagi untuk bertemu denganku. Lalu aku bergegas untuk pergi ke stasiun bersama keluargaku. Aku menemui Deny bersama seseorang wanita setengah baya, seumuran dengan mamaku. Aku di kenalkan oleh Deny bahwa itu mamanya. Deny berpesan ‘hati-hati di sana fannya, nanti kalo kamu datang hubungi aku saja, aku pasti ada”. Dengan air mata yang sulit ku bendung aku tersenyum dan mama Deny memelukku erat lalu berkata “nanti kalo sudah datang main ya nak, ibu menunggu”. Pengumuman bahwa kereta jurusan semarang telah sampai membuat perpisahan itu terjadi, air mataku berlinang tak terbendung merasakan tidak akan bertemu Deny lagi, wajah Deny akhir-akhir ini semakin pucat.

                Sesekali aku pergi ke warnet jika mendapat izin keluar untuk mengabari orang rumah dan Deny, kita saling mengirim foto terbaru kita, aku senang Deny sangat rajin menyelesaikan skripsinya. Tanggal 8 april 2019 nanti genap 7 tahun aku dan Deny berpacaran. Aku janji akan datang dan menemuinya. Tetapi waktu berkata lain aku tidak mendapatkan cuti waktu itu, karena kesibukan mengurus kelulusan dan pengumuman aku akan dipekerjakan dimana. Sampai-sampai aku tidak bisa mengabari Deny.

                Sampailah aku di stasiun tanpa mengabari siapapun, aku menggunakan angkutan umum untuk pulang ke rumah, dan sudah menyandang sebagai Polwan. Kala itu tanggal 14 april 2019, besok ulang tahin Deny yang ke-19 tahun, aku ingin meminta maaf karena telat datang. Aku tidak langsung pulang, aku mampir di wartel untuk menghubungi nomer Deny. Lama, dan lebih lama lagi telfonku tidak mendapati jawaban, sampai akhirnya beberapa menit kemudian aku mendapati wanita menjawabnya, dia mamanya Deny. Mamanya memberitahukanku bahwa Deny sedang pergi, ponselnya tidak ia bawa. Mama Deny ingin menjemputku di Wartel itu, tetapi aku menolak ajakannya karena aku tidak ingin merepotkannya.

                Sesampainya di rumah, semua terkejut dengan kedatanganku. semua yang berada di rumah menangis di pelukanku. Aku di beri waktu beberapa minggu untuk berlibur. Beberapa hari setelah aku di rumah, aku menghubungi nomer Deny, dan lagi-lagi mamanya yang mengangkat. Aku sangat merindukan Deny, apa dia sesibuk ini? Hatiku berkata. Beberapa menit lagi mama Deny sampai kerumahku untuk menjemputku bertemu dengan Deny. Dan sampai di rumah Deny, aku sangat senang sekali melihat adik Deny tumbuh dewasa seperti Deny, parasnya mirip sekali. Mama Deny memasuki kamar dan keluar dengan sekeranjang bunga. Ada apa ini? Pertanyaan yang lugas langsung datang di otaku. Mama Deny langsung mengajaku berjalan ke suatu tempat yang aku tau itu adalah pemakaman. Aku terhenti di depan pintu masuk dan bertanya “Bu? Deny bekerja disini? Atau Deny sedang bersama temannya di sini?” . mama Deny tidak menjawab, dia langsung tersenyum dan menggandengku sambil berjalan. Sampailah di tengah pemakaman yang berdekatan dengan pohon beringin yang tinggi nan rindang, terik matahari tak mampu menembus dedaunannya.

                Aku berhenti berjalan ketika mama Deny duduk di samping nisan yang bertuliskan “ DENY KHORUL AZZAM , 07 APRIL 2019 “ kedua kakiku gemetar mendapati itu semua, seperti tidak percaya dengan semua ini. Air mata yang lama tidak menetes sedikit demi sedikit menetes membasahi pipiku, Deny meninggal sehari sebelum kita anniversary. Mama Deny meminta maaf kepadaku, aku yang hanya terpanah melihat nisan itu yang tidak mempercayainya, bahwa Deny sudah tidak ada, aku terduduk masih tak percaya. Dengan sangat berat mama Deny memberikan sebuah surat, dan dia becerita “Deny menunggumu setiap tanggal 08 di stasiun, berharap kamu datang nak. Di hari Deny meninggalpun dia hanya bias meneteskan air mata, karna tidak dapat melakukan apa-apa. Ibu menemukan surat ini di balik badannya”:

                Dengan bercucuran air mata aku membaca surat itu, menyesal kata yang tepat untuk perasaanku yang kacau kala itu, dan mama Deny berkata “maafkan ibu sayang, deny sangat menyayangimu, dia terjangkit penyakit kanker otak, Deny tidak ingin kau menyesali semua ini nak”. Sesudah membaca surat itu aku memeluk mama Deny sangat erat dan berkata “Aku sangat menyayangi Deny bu… mengapa deny meninggalkanku, besok Deny berulang tahun bu”. aku yakin, tuhan punya rencana lain dengan ini semua, mungkin tuhan akan mempersatukan aku dengan dia nanti di alam lain.

 

 

THE END